Hari ini dan besok bisa dibilang sebagai halal bihalal day. hari ini dari pagi sampai siang halal bihalal trah (keluarga besar), dan malemnya halal bihalal lagi lebih ke keluarga besar kami.
Pagi hari semua sudah dipersiapkan. Tapi gak tau kenapa, mungkin memang udah waktunya aku mengistirahatkan badanku sejenak setelah kemaren kemaren terus menerus memforsir tanpa ada ampun. Persiapan udah dilakukan, jemputan udah nyampe depan, tapi setelah mau jemput papa mama dihotel, tiba-tiba perutku mulai kambuh lagi. Alhamdulillahnya papa mama bisa sangat mengerti kondisiku saat ini. Akhirnya aku nyerah gak ikut halal bihalal yang pagi, dan langsung pulang kerumah, dengan schedule tidur sepanjang hari.
Sore’ kebangun, karena mbak shas, kakak, ma adek udah langsung ketok kamarku dengan panggilan khas mereka. Selesai dengan mereka, mbak, cece dan adek’pun akhirnya ikutan masuk kamar, dan mulai ribet dengan urusan baju dan berbagai perlengkapannya. Yagh, menurut mereka, selain mama aku adalah orang yang terpercaya untuk urusan yang satu ini. Walaupun aku juga hanya berusaha tampil apa adanya, tapi untuk referensi dan pusat peminjaman ternyata tetap aku no satunya ?
Semuanya beres, akhirnya kami pun langsung menuju ke tempat halal bihalal keluarga kami yang riuh dengan berbagai macam cerita, tawa, tangis dan berbagai acara inti dan spontanitas yang menjadi perhatian utamanya. Sambutan, doa dan doa dari yang kung yang ditua’kan dikeluarga ini pun hadir satu persatu dengan diakhiri acara spontanitas dan adu kebolehan keluarga kami yang mayoritas adalah penyanyi dadakan. Yagh, acara spontanitas ini adalah acara yang ditunggu oleh keluarga besar kami. Karena walaupun kami bukan orang batak yang terkenal dengan suaranya yang merdu, namun bisa dibilang, keluarga kami termasuk yang tidak mau saling kalah untuk ‘memamerkan’ kebolehan masing-masing. Satu demi satu mempertunjukkan kebolehannya, mbak shas, adek dan kakak masih menjadi idola kami semua, apalagi mereka selalu ada di ‘panggungnya’. Keponakanku yang masih berusia 2 minggu pun lebih memilih menikmati malam ini dengan tidur di tempat tidur mungilnya, sedangkan kakaknya, mulai sibuk bermain dengan mbak shas, kakak dan adek.
Satu hal yang membuatku bahagia malam ini adalah dengan adek lelaki’ku yang termasuk kesayanganku diantara sepupu yang lain. Yagh, karena diantara sepupu yang ada, kami teman sebaya yang berada pada SD yang sama, dimana setiap saat aku akan selalu bersamanya, dirumah, disekolah, sampai tanteku pun kupanggil mami, karena aku sudah seperti anak sendiri baginya. Setiap eyang ada acara, pastillah cucunya yang akan diajak adalah kami berdua. Sepasang yang gak pernah mau pisah, dan bisa sangat pisah dengan papa mamanya ?. Karena jika dibandingkan dengan sepupu kami yang lain, kami adalah anak-anak yang mandiri ?. Sampai kami menginjak dewasa, dia’pun masih sangat kumanja. Teman wanitanya akan selalu kukenal. Kadang menjadi sahabatku. Dan jeleknya, banyak teman wanitanya akan cemburu padaku, karena dia akan mencontohkan apa yang aku lakukan kepada teman-teman wanitanya. Adek lelakiku adalah lelaki yang ganteng, rapi dan selalu memperhatikan penampilan. Sangat berbanding terbalik padaku, karena aku adalah wanita yang sangat simple, super duper tomboi dan hanya memperhatikan faktor kenyamanan. Pada suatu saat, ada wanita yang ‘menganggapku tidak ada’ pada sebuah antrian pada saat kami akan masuk universitas. Aku hanya menganggapnya biasa. Tapi ternyata adek lelakiku sangat tidak setuju dengan perlakuan wanita ini. Maka didekatinya aku, dan begitu wanita ini menoleh, adek lelaki’ku memperkenalkan aku kepada wanita ini. heran dan aneh bin ajaib, wanita ini langsung baik padaku. Yagh, adekku adalah lelaki ganteng dan tampan, yang banyak wanita akan rela meng’aku-aku’kan diri mereka sebagai kekasihnya, dan berbagai tindakan dan peng’aku’an lainnya yang kadang membuatku merinding dan bisa tergelak karena aku tau persis versi yang sebenarnya. kedekatan kami luar biasa. dimana dia ada, aku akan selalu meluangkan waktu ku. dan akhirnya sampai pada suatu saat adekku memutuskan untuk menikah. Pada saat sungkem ngabeken (berbakti) minta restu dan doa untuk melangsungkan ijabnya, kami berdua menangis tak tertahankan. Yagh, aku menangis bahagia sekaligus mengikhlaskan. Karena pelukan itu adalah pelukan terakhirku sebelum dia ‘kuserahkan’ kepada istrinya yang akan menjaganya dan menyayanginya. Karena aku mau adekku bahagia bersama orang yang menyayangi dan disayanginya.
Moment malam ini bersama dia adalah, disaat aku bisa gendong dan memangku anak pertama dan keduanya, dengan diiringi kalimat penghibur yang kuat, pada saat aku cerita ‘masa sakitku’ karena masa itu. Matanya dan dengan ucapannya “Terus dia mau apa lagi mbak?“ hanya dengan itu pun, aku bisa merasa tenang,dan tau dia tetap adekku, dan kami tetap ada walaupun semuanya sudah berjalan mengikuti pilihan hidup kami masing-masing. Alhamdulillah ya Allah, kau berikan hamba anugerah yang sedemikian besarnya. Matur nuwun Gusti Allah.
Perasaan seperti ini sering aku rasakan untuk orang-orang yang ada didekatku, didekat hatiku, yang selalu menguatkan dan membuktikan tahu’nya mereka dengan apa yang sebenarnya. Setiap kali, stiap saat, walaupun aku hanya bisa mendoa’kan, memberikan dan berusaha yang terbaik untuk orang-orang yang aku sayangi tanpa ahirnya aku harus selalu bertemu dengan mereka, mengucapkan sayang dan cinta setiap saat, selalu hadir dalam hidup mereka, mencengkeram dan selalu ada disisi mereka, dan selalu meneriakkan “hey, dia adalah sahabatku, dia adalah soulmate’ku” dan berbagai istillah dan panggilan lainnya untuk meng-claim kedekatan seseorang dengan yang lainnya yang malah akhirnya menyakiti sedemikian sakitnya…tapi alhamdulillah dan aku terus berharap, mereka my silent angel, tau apa yang sebenarnya ada dalam diriku, mereka tau bagaimana sayang dari seorang sahabat dengan artian yang sebenarnya.
Yagh, halal bihalal kali ini yang tidak hanya untuk seluruh keluarga besarku, tapi halal bihalal untuk kehidupan pribadiku dan untuk hatiku. Dimana aku harus berusaha ikhlas dan terus tawakal pada setiap jalan yang telah ditentukan Allah kepada kita.
Seperti apa yang dibilang papa pada satu dua patah diacara tadi adalah; Allah sayang kepada kita dengan doa yang dikabulkannya, Allah sayang kepada kita dengan doa yang ditunda’nya, Allah sayang kepada kita dengan doa yang tidak dikabulkannya, karena Allah mempunyai rencana lain yang lebih baik dan indah untuk kita.