Archive for the ‘lessons’ Category

Saturday, January 30th, 2010

P O S I T I V E     T H I N K I N G

Thursday, January 28th, 2010

memulai kembali sesuatu yang dulu pernah ada dalam kehidupan sehari-hari kita, terasa lebih ‘berat’ jika dibandingkan dengan memulai sesuatu hal yang benar-benar baru. (’berat’: susah, janggal, aneh, harus dibiasakan kembali berulang-ulang). Seperti kondisiku saat ini, dimana aku berusaha untuk kembali pada ’shantiadewi’(:menulis dan blog) ku yang sudah hampir satu tahun kutinggalkan.

dengan tingkat mobilitas, dan fasilitas yang semakin minim, dulu ada laptop kecil yang bisa aku bawa kemana aja aku mau, fasilitas dikantor yang terbuka lebar, waktu yang banyak bisa kugunakan untuk terus berkutat didepan dunia maya ini :) (hahahahahha….pastillah banyak alasan yang selalu digunakan untuk menghindari kata ‘pemalas’ dan ‘angot-angotan’). tapi kesemuanya ini mungkin bisa dibilang lebih tepatnya terhenti karena inspirasi dan keinginan bersama ’shantiadewi’ yang lumayan turun drastis dalam kurun waktu satu tahun ini dikarenakan banyak hal yang telah menjadi pilihanku seperti apa yang telah kuungkapkan pada post sebelumnya (read:…back to…).

awalnya adalah ;

pada 13 Maret 2009 alhamdulillah pernikahanku dengan seorang lelaki yang telah dikirimkan Allah SWT dan  dipercaya untuk mendapatkan limpahan amanah orangtua’ku terjadi. Dengan pertemuan, awal cerita perkenalan dan proses persiapan yang sangat singkat, alhamdulillah pernikahan kami berjalan dengan lancar.  Bertemu pada bulan november 2008 akhir, ketemu 3 kali makan siang itupun dengan kondisi dan suasana rame (serombongan), akhirnya pada awal desember lelakiku meminangku. dan dengan singkat cerita melalui proses ta’aruf dan sholat malam, dan dengan keyakinan insya Allah inillah lelaki yang telah dikirimkan Allah SWT kepadaku, akhirnya proses yang tadinya diniatkan untuk perkenalan keluarga 8 desember 2009, di gunakan tanpa ragu sedikitpun oleh lelakiku untuk langsung meminangku dihadapan keluarga besar kami. ditengah keterkejutan keluarga besar kami, dan linangan air mata yang tiba-tiba menetes dari mataku ini semua proses tersebut akhirnya berjalan dengan lancar. Alhamdulillah… (kami yakin ini semua terjadi karena doa’ dan restu yang diberikan kepada kami…)

berbagai cobaan dalam  proses persiapan pun tak kalah menariknya dengan berbagai kebahagiaan yang kami rasakan. namun Alhamdulillah, akhirnya atas seizin’NYA, semuanya dapat terselesaikan dengan baik….hidupku mang tak pernah luput dengan kehidupan bak “Rollercoaster” (:istillah yang selalu kugunakan dalam setiap menulis, untuk menggambarkan naik turunnya emosi dan perasaan, cobaan dan kegembiraan dalam kehidupanku).

for once in my life

for once in my life

Honeymoon? lewatlah sudah…karena honeymoon yang kami rencanakan pada awal mei 2009 pun harus kami tunda berkat hasil bahagia yang pada bulan sebelumnya kami dapatkan bahwa ada ‘malaikat kecil’ (: my baby boy)  yang saat ini ada dalam kehidupan kami..Alhamdulillah…

Bersyukur dan campur aduk rasanya :) Proses pacaran yang nyaris tidak ada, dan amanah yang langsung diberikan kepada kami, merupakan limpahan kasih sayang dari Allah SWT kepada kami yang harus selalu kami syukuri..

Alhamdulillah 27 November 2009 diiringi gema takbir hari raya Idul Adha pukul 06.38 wib, lahirlah putera kami ‘malaikat kecil’ yang selama ini selalu menjadi limpahan segala perasaanku, yang selalu setia menemaniku, yang selalu mengikuti irama langkahku…dan sejak saat itu hari-hariku terisi dengan tetesan air mata yang tiba-tiba menetes pada saat melihatnya tertidur pulas tersenyum dan menangis, mata bengkak, mandi sehari sekali, daster dan baju bau ompol dan susu, pinggang pegel, kaki bengkak, tangan kram :), rambut acak-kadul…fhuuiiih, subhanallah….(beberapa yang terakhir memang dasarnya jorok ibu’nya :))berbagai macam rasa kurasakan. minggu demi minggu, bahkan detik demi detik rollercoaster kehidupanku selalu menyelimuti’ku…

malaikat kecil'ku

malaikat kecil

dan yaaps…

akhirnya saat ini 28 januari 2010, sehari setelah ‘malaikat kecilku’ berusia 2 bulan aku mulai bisa kembali didepan dunia maya ini untuk menyeimbangkan hidupku, didampingi ‘malaikat kecil’ yang ada disampingku tertidur pulas dengan berbagai ekspresi yang dimilikinya.

Alhamdulillah, subhanallah dengan berbagai hal yang terjadi dalam kehidupanku. Tawa, tangis, perih, sesak, sakit dan berbagai rasa yang tak terelakkan dan terkatakan tumpah ruah dalam setiap detik kehidupanku.

matur sembah nuwun ya Allah….

……

Friday, May 1st, 2009

“…tolong liat dengan mata hati kamu dan rasakan..janganlah kau berucap dan memaksakan diri untuk berkata apa-apa jika kau tidak mampu mengungkapkannya …karena terkadang komunikasi membuat kesalahpahaman sering terjadi..”

post yang tertunda sejak beberapa bulan lalu…

Tuesday, March 24th, 2009

berbagai kejadian demi kejadian akan selalu ada dalam kehidupan kita. satu quate yang paling menarik beberapa minggu lalu aku dapatkan dari seorang direktur yang sangat humble dan menyenangkan, kudapatkan disebuah lounge pada saat menunggu burung bajaku menuju ke sebuah awal journey perjalananku menuju ke koper kenangan raksasaku;

“ya’…dalam dunia ini gak ada sesuatu yang berjalan secara kebetulan. semua sudah direncanakan dan diatur oleh Allah SWT”…

saat mendengarnya aku hanya menganggapnya sebagai sebuah obrolan kecil kami yang memang terkadang tak luput dari acara canda tawa yang berkisar dari capital market sampai hal-hal kecil yang ada didalam lingkungan kami.

namun setelah kutelusuri lagi setiap perjalananku, kutelusuri dalam hatiku, kutelusuri dalam setiap memory kenanganku, dan kutelusuri dalam setiap detak jantungku, memang benar adanya quate yang telah diucapkannya saat itu…bahwa apapun yang ada dalam kehidupan kita selama ini, tidaklah berjalan secara tidak sengaja, dan kebetulan. semuanya berjalan karena memang sudah diatur oleh Allah SWT dan pastinya karena seijin’NYA.

perjalananku pada masa lalu, membawa banyak perubahan dan membawaku melangkah melalui jalan yang ada saat ini. cerita demi cerita, jalan demi jalan yang kurasakan saat itu, ternyata membawa sesuatu pada hidupku saat ini, yang pastinya semuanya tidak berjalan karena kebetulan, karena kuyakin semunya telah diatur oleh’NYA.

pekerjaanku saat ini, adalah pekerjaan yang waktu itu aku indahkan dan abaikan karena aku lebih memilih proses memasuki kehidupan baruku bersama pangeranku. pekerjaan yang akhirnya kutinggalkan karena ketentuan-ketentuan yang tidak dapat kuikuti karena komitmen dan skala prioritas yang telah kupilih untuk hidup bersamanya..namun tapak demi setapak jalan yang kulalui, tidak menuju pada persinggahanku saat itu. karena banyak batu-batu besar yang menghalangi langkahku sehingga aku tidak mencapai persinggahanku saat itu yang hanya tinggal sesaat. jangankan untuk melangkah, bernafas dan melihat apa yang ada didepanku saat itu pun aku tak mampu…

namun ternyata batu besar itu telah menyelamatkanku dari sebuah jurang yang cukup dalam, yang jika tidak ada batu besar itu dan ku terus lanjutkan perjalananku menuju persinggahan itu, maka aku saat ini tidak ada disini, dengan rumah yang meskipun sederhana, namun nyaman, indah, tentram dan sangat menyejukkan…

…semua cerita dan rentetan peristiwa demi peristiwa yang ada saat ini pun, akan membawaku ke masa depanku…

bismillah…semuanya kujalani dengan nawaitu yang kutujukan hanya kepada’NYA.

“………”

Thursday, December 4th, 2008

Growing and going fast

Uncontrollable

Unpredictable

Everything just happened

Is it right?

This is because of the Allah Way?

Bismillah…

just wanna do anything to get the great bless from Allah

….

Tuesday, November 25th, 2008

jarum kecil khusus buat bayi itu berhasil masuk ke lenganku yang sangat imut pagi ini :) Yaps, mulai lagi penyakit yang gak jelas, dan gak diundang datengnya ini dateng ke hari-hariku kurang lebih satu minggu ini…teriakan dan teguran dari semua yang ada disini kuindahkan karena memang jeng shantia yang selalu bandel dan tidak pernah mengindahkan alarm-alarm badan ini… :)

I love all of this….kenapa harus merasa tergangu dengan yang namanya sakit ini ? semua yang kulakuin berusaha kunikmati ditengah dera perutku yang silih berganti dateng gak jelas, ditengah demamku yang gak mau kompromi, ditengah rasa menggigilku yang gak karu-karuan…sampai beli sweater dadakan… padahal mobil udah kurelakan tidur dikantor selama beberapa hari ini untuk meminimalisir kemungkinan aku ambruk lagi..tapi ternyata mang gak ngaruh.

yaps, itu 2 hari yang telah berlalu. hari ini diriku berhasil diyakinkan untuk cuman bertapa dirumah, dikamar cantikku ini. hfffmmm…ritual biasa yang kulakukan kalo kayak gini, ya tetep aja, sms sana sini ngeyakinin kerjaan semuanya beres dan gak ada kendala samasekali, meeting yang akhirnya gak bisa kutepati.

satu hal yang pasti hilang adalah, gak ada sms dan telpon ’seperti biasa’ dengan nada penuh  kekhawatiran..ada satu dua tapi dari si adek baruku, dan sms sayang dari mbak-mbakku di kantor :) but i know you were here with me :) i can feel it…i will happy for you…in every step that u make, and every breath that u take…

bismillah dengan semua yang ada. life is a mystery. kita gak akan pernah bisa tahu apa yang telah direncanakan untuk kita. kita bisa merasakan dengan hati dan berdamai dengan hidup ini, jika kita mau melihat dan merasakannya, dan kadang yang terbaik dalam hidup ini adalah dengan sabar dan menerimanya. (insya Allah, i’m already found it…i’m doing anything, and its so peacefull. Insya Allah, i’m doing in Allah ways…Alhamdulillah)

satu bagian dari rectoverso dee :

“untuk apa seseorang tahu sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah?”

“kita tak tahu dan tak pernah tahu hingga semua berlalu. benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuman waktu”.

“…saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai”.

puji syukur

Saturday, November 22nd, 2008

Allah dengan semua rencana’nya,  Allah dengan segala keputusannya,  Allah dengan segala jalan dan petunjuknya.

Alhamdulillah ya Allah, hamba bersyukur kepada’Mu atas semua yang telah engkau anugerahkan kepada hamba’mu ini…dalam suka, duka, amarah, sepi, diam, gembira, dan berbagai rasa dan emosi yang ada, engkau menjaga hamba untuk selalu ingat dan tunduk kepada’Mu. engkau arahkan hamba menuju kejalan’Mu

Alhamdulillah ya Allah, hamba rasakan semua jalan dan jawaban atas apa yang ada…Engkau dekatkan dan berikan kehendak’Mu kepada hamba, dengan berbagai jalan dan cara yang ada….dan semakin hamba rasakan kedekatan ini, dengan ikhtiar yang kujalankan untuk lebih dekat denganmu, tunduk pada perintah’Mu untuk menjalani apa yan telah engkau rencanakan dan berikan kepada hamba’Mu ini…

Wednesday, November 5th, 2008

“all things can be happened…..”

First word of his first speech as a President of United States

Barrack Obama Wednesday, Nov 5th, 2008

Global Crisis

Tuesday, October 21st, 2008

Banyak yang dirasakan secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kondisi financial saat ini Berbagai perbincangan dan pembahasan yang sangat didominasi oleh adanya global crisis yang dilihat dari berbagai macam sisi, baik dalam lingkungan kita maupun melalui media pun dalam kurun waktu 3 minggu ini telah menghiasi hari-hari kita. Dari bangun pagi sampai menjelang tidur lagi L. Global crisis memang dampaknya dapat dirasakan oleh individu sebagai individu, perusahaan dan Negara. Dan kalo bicara masalah global crisis menurut sudut pandangku pribadi, maka aku masih terlalu dini untuk membahasnya. Namun jika kita membaca dan melihat dari sudut pandang orang yang benar-benar bisa melihat dari berbagai sisi dengan penjelasan yang sangat mudah dapat dimengerti oleh segenap lapisan masyarakat. Mungkin tulisan ini, adalah salah satu referensi tulisan yang menurutku sangat mudah dimengerti dari sisi seorang jurnalis. Insya Allah suatu saat ini, akan ada tulisan yang mudah dimengerti dari sisi seorang ekonom. Tulisan ini aku dapatkan dari forward mail yang telah dibuat oleh CEO jawa pos bapak Dahlan Iskan, dengan mengambil sudut pandang yang sangat mudah dimengerti dengan penjelasan yang kurang lebih telah mencakup bagian dari terjadinya Global Crisis.

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi

Jluntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ”menceritakan” secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.

Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.

Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara ”membesarkan” perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.

Tapi, itu belum cukup.

Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!

Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.

Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.

Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?

Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ”Deregulasi Kontrol Moneter”. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.

Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya:

Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama).

Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.

Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

Dengan keluarnya ”jalan baru” pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi ”jalan baru” yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.

Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark , gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.

Kata ”mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?

Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ”para pelaku bisnis keuangan” sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage-kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras.

Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.

Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ”bank jenis lain” yang disebut investment banking.

Apakah investment banking itu bank?

Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ”hanya mirip” bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ”deposito” dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ”personal banking”.

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana , saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.

Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.

Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.

Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ”menabung”- kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana . Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)

By Sidney poitier

Tuesday, October 7th, 2008

We’re all of us a little greedy (some of us are plenty greedy).
We’re all somewhat courageous, and we’re all considerably cowardly.
We’re all imperfect, and life is simply a perpetual, unending struggle against those imperfections.