Archive for the ‘dailyLife’ Category

Saturday, January 30th, 2010

feel so sad. I’m afraid can’t control this feeling, emotionally one.that can makes everything getting worse and in trouble if I blow it up…

Ya Allah, kuatkanlah dan jagalah hati, Perasaan dan pikiran hamba ya Allah…
Ini adalah musuh terbesar dalam diri dan hidup hamba…

Hamba takut ya Allah…
Berilah senyum itu, berilah kelapangan dan keikhlasan itu, berilah ketenangan itu ya Allah…

Astagfiruloh’haladzim….

Saturday, January 30th, 2010

P O S I T I V E     T H I N K I N G

Alhamdulillah…

Tuesday, January 6th, 2009

sujud syukur hamba panjatkan kehadiran’Mu ya Allah,…

Alhamdulillah, hari ini walaupun banyak masalah kerjaan yang datang silih berganti dan nempa hariku, tapi banyak hadiah yang sangat ku syukuri…dan kuyakin ini semua tak akan terjadi jika tanpa kehendak”MU ya Allah, dan doa dari orang tua, keluarga, sahabat, teman dan semua yang ada disekitarku…

Alhamdulillah ya Allah, siang ini aku bisa ketemu ma kamu beib, saling ngerti dan paham atas apa yang ada, saling menguatkan, and we will sing together :)

Alhamdulillah, penantianku selama 6 bulan ini terlaksana sudah. berkat doa’, kerjasama, dan dukungan yang ada dalam berbagai macam bentuknya, dengan banyak hal yang harus kubayar untuk mencapai sebagian dari perjalanan panjangku ini, alhamdulillah sudah berada dalam mangkuk yang ada. kalo istillahnya SVP’ku adalah…”welcome to the board”… :)

Alhamdulillah, insya Allah ini menjadi jalan perjuangan dari sebuah amanah yang kujalani dalam kehidupanku…dalam ikhtiar untuk selalu berusaha menjadi umat’MU yang terbaik…bismillah…

matur nuwun gusti Allah…matur nuwun…

big surprised….wednesday Dec, 3rd 2008 at 08.00 WIB

Wednesday, December 3rd, 2008

“Good Luck with your new journey, Bismillah, Face the world with a smile”

words by words…makes me smile and just can say..thank you for everything

i didn’t know who sent me this beautiful cake…but for u “my mysterious one”…it so meaningfull for me…

thank you….

….

Tuesday, November 25th, 2008

jarum kecil khusus buat bayi itu berhasil masuk ke lenganku yang sangat imut pagi ini :) Yaps, mulai lagi penyakit yang gak jelas, dan gak diundang datengnya ini dateng ke hari-hariku kurang lebih satu minggu ini…teriakan dan teguran dari semua yang ada disini kuindahkan karena memang jeng shantia yang selalu bandel dan tidak pernah mengindahkan alarm-alarm badan ini… :)

I love all of this….kenapa harus merasa tergangu dengan yang namanya sakit ini ? semua yang kulakuin berusaha kunikmati ditengah dera perutku yang silih berganti dateng gak jelas, ditengah demamku yang gak mau kompromi, ditengah rasa menggigilku yang gak karu-karuan…sampai beli sweater dadakan… padahal mobil udah kurelakan tidur dikantor selama beberapa hari ini untuk meminimalisir kemungkinan aku ambruk lagi..tapi ternyata mang gak ngaruh.

yaps, itu 2 hari yang telah berlalu. hari ini diriku berhasil diyakinkan untuk cuman bertapa dirumah, dikamar cantikku ini. hfffmmm…ritual biasa yang kulakukan kalo kayak gini, ya tetep aja, sms sana sini ngeyakinin kerjaan semuanya beres dan gak ada kendala samasekali, meeting yang akhirnya gak bisa kutepati.

satu hal yang pasti hilang adalah, gak ada sms dan telpon ’seperti biasa’ dengan nada penuh  kekhawatiran..ada satu dua tapi dari si adek baruku, dan sms sayang dari mbak-mbakku di kantor :) but i know you were here with me :) i can feel it…i will happy for you…in every step that u make, and every breath that u take…

bismillah dengan semua yang ada. life is a mystery. kita gak akan pernah bisa tahu apa yang telah direncanakan untuk kita. kita bisa merasakan dengan hati dan berdamai dengan hidup ini, jika kita mau melihat dan merasakannya, dan kadang yang terbaik dalam hidup ini adalah dengan sabar dan menerimanya. (insya Allah, i’m already found it…i’m doing anything, and its so peacefull. Insya Allah, i’m doing in Allah ways…Alhamdulillah)

satu bagian dari rectoverso dee :

“untuk apa seseorang tahu sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah?”

“kita tak tahu dan tak pernah tahu hingga semua berlalu. benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuman waktu”.

“…saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai”.

lagu tempo dulu

Tuesday, November 4th, 2008

kusangka masih banyak bunga berwarna, ternyata rasa kagumku yang terbawa……(by chandra darusman, now by shelomita)

hiii….cuplikan lagu yang bikin aku jadi keinget beberapa hari yang lalu pada saat aku pagi-pagi denger lagu-lagu lama, sbelumnya lagu kiranya protonema, ekh pagi-pagi ada lagunya emerald yang bisa bikin aku bisa nyanyi-nyanyi sendiri, dan berhasil bangkitin semangatku pagi itu..

hmmm…i like, i love it, and i miss it…emang umur gak bisa nipu. hahahhaha….walaupun banyak yang membantahnya setiap aku sebutin berapa sebenernya umur tante ini :) cuman ya beginillah hidup bukan? ada up and down, apalagi analogiku selalu dalam hidup yang kulalui adalah seperti rollercoaster yang akan selalu bergerak dengan cepat penuh dengan lika liku yang ada didalamnya.

beberapa hari searching gak jelas, mpe ada yang berbaik hati cariin mpe bandung (makasih yaaghh :)), searching versi mp3′nya dan alhamdulillah terkumpul lah sudah satu demi satu yang telah banyak dilupakan orang-orang masa kini :(

alasan kenapa aku terpana dan termenung merindukan lagu-lagu ini?

1. pastillah teringat masa dulu. dimana sangat dipengaruhi oleh mas-mas, dan oom-oom yang saat itu kos dirumah.

2. saat dulu aku udah mulai suka bermain-main tanpa aturan dengan tuts-tuts yang ada di piano atau organ yang ada dirumah. begitu mendengar lagu, musik aku pasti akan sibuk mencarinya didalam tuts-tuts rapi itu. walaupun belum dimasukkan kedalam kursus musik apapun, tapi jiwa ‘gak bisa diemku’ selalu menyeretku ke wilayah ruang musik dirumah (walaupun saat itu cuman mama yang bisa main dengan salah satu lagu andalannya rayuan pulau kelapa).

3. karena kegiatanku ini, banyak yang akhirnya support aku secara tidak langsung untuk lebih giat mencari setiap nada yang ada dalam sebuah lagu, dengan diiringi mereka yang akan menyanyi walaupun antara tangga nada yang kumainkan, dengan suara mereka tidak bisa berjalan seiringan (alias fals). dan langganan utamaku saat itu adalah mama, dan mbak yang akan selalu diriingi dengan request lagunya apalagi pada saat hatinya gundah gulana.

4. Musikalitas saat itu sangat ‘berisi’ menurutku. dimana melodi yang ada didalamnya, ringan namun sangat mengena dengan apa yang ada.

5. Masa kecilku adalah masa bahagia dan berwarna. karena apapun kegiatan yang kulakukan, pasti mendapat apresiasi dari lingkungan. ikut lomba sana-sini dari yang aerobic, sepeda gembira (yang saat itu jadi trend luar biasa), senam lantai, tari bali, ikut pertunjukan sekolah, lomba organ, piano, lomba pramuka, aktif di berbagai kegiatan kampung tanpa didampingi mama atau siapapun juga saat itu, aku maju terus pantang mundur. karena aku sangat menikmati kegiatan ini :). gak ada takutnya samasekali aku untuk berada dalam sebuah lingkungan yang baru. Dan dalam setiap kegiatan itu, banyak hal yang kualami dan aku sangat mensyukurinya. bisa ketemu dengan indra lesmana, fariz RM, dhian pramana putra, dedy dhukun untuk artis musiknya. untuk tarinya aku sudah cukup mengenal vicky burky, bagong k dan beberapa nama lainnya. Beliau-beliau ini kutemui pada saat mereka singgah dan aku dapat kesempatan untuk bertemu dalam situasi apapun. Baik di sebuah radio yang ternyata menjadi tempat singgahku setelah dewasa (yang namanya jodoh dan nasib siapa yang tau?), ataupun ditempat dilaksanakannya lomba yang kuikuti.

6. masa kecilku tidak hanya ini yang terekam dalam ingatanku. banyak pertunjukan teater, musik pop, klasik ataupun jazz yang saat itu sudah kuminati. dari sebuah tampat bersejarah seni yang saat ini kurang diperhatikan di yogya “Purna Budaya” sampai pertunjukan seni yang sering diadakan dipinggir jalan malioboro, ataupun kawasan Gadjah Mada

tidaklah mengherankan kalau saat ini, aku sangat menghayati dan menikmati lagu dan musik jaman dulu ini. kalo dilaskar pelangi mahar menyanyikan bunga seroja dan sebagian dari kami tidak mengetahui lagu tersebut, sabaliknya dengan aku yang langsung bisa menyanyikannya bersama mahar pada saat dia ingin menghibur ikal pada saat bersedih :). berbagai kenangan dari tarian, musik dan lagu-lagu masa itu yang menenangkan hati salah satunya adalah bunyi gamelan dan para sinden di halaman puro yang disiarkan secara langsung di RRI stasiun yogya

Alhamduilillah ya Allah….aku berada pada setiap masa yang ada. yhuk mari, siapa yang akan bergabung bernyanyi dan menari bersamaku? bercengkrama dan bercinta dengan alunan musik yang indah dilengkapi dengan suasana dan lingkungan yang menenangkan

sunshine

Wednesday, October 29th, 2008

Wow….Subhanallah…

Setelah beberapa hari ini hujan, bahkan semalem pun masih hujan, pagi ini begitu sampai dimeja, aku ngeliat pemandangan yang indah banget :)

Terang banget, sampai pegunungan yang ada didepanku yang selama ini jarang terlihat jelas, bisa keliatan jelas dan nyata menjulang tinggi didepanku dengan hiasan gedung-gedung yang menjulang tinggi didepannya…

Salah satu bentuk dan tanda kebesaran Allah, dimana setiap masalah dan apa yang yang ada dalam kehidupan kita semendung dan segelap apapun juga, pasti akan hadir secercah harapan dan keindahan yang ada kemudian…

You are the sunshine of my life….lagu yang menjadi lagu kebangsaanku sejak aku tau lagu itu, menyelimuti ku hari ini…

Hope everything will be fine….hope everything will be ok…
Look at the sunshine oom…..you will find it, in your heart
:)

Everybody loves u….face the world with smile….facing and fight it for you future

Love u :)

4 hari’ku…

Thursday, October 23rd, 2008

Ok…enough 4 hari stress full dengan berbagai hal yang membuatku semakin ‘bersemangat’ dan harus siap sedia men-charge kondisi fisik dan jiwaku. Terkadang saat-saat ini, kuberada diruangan dengan layar-layar yang besar dikanan kiri beserta dengan berbagai grafik yang naik, turun, mendatar gak tentu arahnya, dengan suasana yang semakin gak tentu, disinillah aku diletakkan untuk belajar lebih banyak tentang sesuatu hal yang belum pernah kusentuh selama ini.

Alhamdulillah ya Allah, engkau telah berikan ini semua kepada hamba. Saat yang ‘tepat’ untuk memulai sesuatu, dimana hamba engkau beri zona ‘ketidaknyamanan’ dan engkau ‘cambuk’ untuk membuat hamba belajar dan tahu tentang banyak hal yang selama ini belum hamba ketahui ya Allah…

Dari yang namanya stress management yang saat ini mulai kudapati bagaimana caranya, sampai yang namanya intermezzo yang udah mulai gak jelas, tapi Alhamdulillah ya Allah, dengan senyum pak Bos, dengan candaan para senior, dukungan mbak dan mas yang ada disekitarku, semuanya terasa tetap indah menyambut apa yang ada.

Senin, mulai hari dengan banyaknya berita yang harus dibaca, giliran baca Koran, majalah dan apapun yang mengupdate info terbaru dari dalam maupun luar negeri. Mulai utak atik analisis, mulai searching info dan akhirnya siangnya dapet bonus bisa makan fried oxtail…(hmmm yummy :) ) diculik naik taksi pastinya :),  dan sorenya aku bernyanyi dengan diiringi mp3 si congky yang akhirnya membuat gempar seluruh penghuni lantai 22 :) . Gmana gak langsung nyanyi? Kalo ternyata lagunya congky adalah lagu-lagu jaman dahulu kala yang udah luama banget aku gak denger, dan salah satunya group band jaman dahulu kala yaitu protonema dengan kirananya. Lewatlah sudah sore itu suara merdu sang vokalis gondrong protonema dilantai 22, karena  berhasil tergantikan oleh’ku dengan earphone’ yang ada ditelinga, diiringi bunyi tuts keyboard kompie’ku dan pastinya dengan suara andalanku ini….hihihihihihihi. Malu sore itu? Banged :( .

Selasanya, mulai lagi hari dengan meeting yang memberikan info menarik dan info menyesakkan. Dalam kondisi saat ini, ternyata abdi masyarakat seperti kami harus bisa memaksimalkan kinerja, dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Negara…Siangnya pergi ke pengisi lumbung yang bisa diajakin curhat dan ngobrolin tentang berbagai macam kondisi yang ada, balik kantor lagi dan istirahat siangnya  langsung melarikan diri ke tempat peristirahatanku yang balik-balik kantor udah kembali tampil dengan indah dan segarnya diriku :)

Rabu, kembali lagi dengan berita yang lebih menyesakkan, karena tumpuan yang diharapkan ada dipundakku. Dengan kata lain, support yang paling bisa membantu adalah dari sini. Dengan melihat kondisi pasar yang ada saat ini, dimana system kompetisi yang udah mulai gak ada juntrungannya untuk mempertahankan dan mengisi lumbung yang ada, merupakan sebuah tantangan yang luar biasa. Namun alhamdulillah, dengan terapi ‘menyanyiku’ di sore hari yang mulai kulakukan tanpa kusengaja dan membuat semua penghuni tertawa terbahak, ternyata bisa memecahkan keheningan yang ada karena kondisi pasar saat ini diruanganku, walaupun dimalam harinya, ternyata energi dan kekuatanku akhirnya tumbang didalam ruangan sakti yang berada dilantai keramat ini dengan hiasan layar lebar penuh dengan angka dan hiasan warna grafik yang mulai beraneka macam bentuknya.

Kamis, alhamdulillah aku bisa merasa gembira. Gak tau ada energi apa yang bisa membuatku seperti ini. Kunjungan ke beberapa pengisi lumbung yang handal dan sangat kugantungkan, makan siang dan akhirnya balik kantor dengan beberapa telpon dan sms yang bisa bikin suasana hatiku loncat kanan kiri gak tentu arah, akhirnya malam ini bisa diakhiri dengan sesuatu yang sangat kurindukan beberapa hari ini. Jalan, liat indahnya lampu-lampu :) , nyoba makan ditempat baru ma si oom, dan beli bukuuuuuuuu…yuhuuuu I love it.

Aksara yang baru dibuka, dengan susunan yang rapi, barang yang menarik hati pastinya, lagu yang enak didenger, akhirnya aku berhasil borong 4 buku dengan jejeran beberapa buku yang masih pengen banget ada ditanganku. namun alarm udah menandakan. STOP. Next month budget ‘please’… Karena untuk hari ini, Aksara udah berhasil “rampok” aku dengan jejeran nol yang panjang dengan 4 buku yang udah ada ditangan saat ini . Made to Stick,  Change the way you see yourself, The Road and…Dee Rectoverso yang kubeli karena yang sebelumnya dipinjem untuk selamanya ma adindaku tercinta.

Alhamdulillah ya Allah, 4 hari udah dijalanin dengan amunisi yang harus selalu kuisi dan kuisi terus untuk menjadi abdi Negara yang berusaha memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia, dengan energi yang selalu harus ku charge setiap waktunya. Dan besok, aku harus mulai lagi semuanya dengan semangat baru (harus downg, udah ada buku baru kan? Hihihihhi), dan dengan senyum indahku dari pagi sampai malem.

Yaps. Sampai malem senyum ini harus lebih kubuka lebar, karena dapat ‘mandat’ jadi among tamu untuk  jamuan di rumah Dubes Belanda dimana insya Allah akan ketemu semuanya…dan yuhuuuu, apa yang akan terjadi….? Hmmm…jangan-jangan dirumah pak dubes ada pak diplomat yang satu itu yaaah…. :)

Global Crisis

Tuesday, October 21st, 2008

Banyak yang dirasakan secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kondisi financial saat ini Berbagai perbincangan dan pembahasan yang sangat didominasi oleh adanya global crisis yang dilihat dari berbagai macam sisi, baik dalam lingkungan kita maupun melalui media pun dalam kurun waktu 3 minggu ini telah menghiasi hari-hari kita. Dari bangun pagi sampai menjelang tidur lagi L. Global crisis memang dampaknya dapat dirasakan oleh individu sebagai individu, perusahaan dan Negara. Dan kalo bicara masalah global crisis menurut sudut pandangku pribadi, maka aku masih terlalu dini untuk membahasnya. Namun jika kita membaca dan melihat dari sudut pandang orang yang benar-benar bisa melihat dari berbagai sisi dengan penjelasan yang sangat mudah dapat dimengerti oleh segenap lapisan masyarakat. Mungkin tulisan ini, adalah salah satu referensi tulisan yang menurutku sangat mudah dimengerti dari sisi seorang jurnalis. Insya Allah suatu saat ini, akan ada tulisan yang mudah dimengerti dari sisi seorang ekonom. Tulisan ini aku dapatkan dari forward mail yang telah dibuat oleh CEO jawa pos bapak Dahlan Iskan, dengan mengambil sudut pandang yang sangat mudah dimengerti dengan penjelasan yang kurang lebih telah mencakup bagian dari terjadinya Global Crisis.

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi

Jluntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ”menceritakan” secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.

Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.

Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara ”membesarkan” perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.

Tapi, itu belum cukup.

Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!

Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.

Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.

Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?

Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ”Deregulasi Kontrol Moneter”. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.

Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya:

Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama).

Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.

Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

Dengan keluarnya ”jalan baru” pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi ”jalan baru” yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.

Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark , gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.

Kata ”mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?

Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ”para pelaku bisnis keuangan” sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage-kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras.

Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.

Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ”bank jenis lain” yang disebut investment banking.

Apakah investment banking itu bank?

Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ”hanya mirip” bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ”deposito” dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ”personal banking”.

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana , saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.

Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.

Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.

Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ”menabung”- kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana . Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)

makes me smile….

Sunday, October 19th, 2008

minggu-minggu yang melelahkan, dan bikin aku gak ngerti harus ngapain setiap hari datang dan balik kantor, lama-lama jadi kayak rutinitas biasa aja yang aku jalanin hari demi hari akhir-akhir ini. yah, faktornya mang buanyak banget. dari a-z yang belum bisa diuraikan satu demi satu langsung selesai, karena semuanya memang ,masih dalam proses yang membutuhkan perjuangan yang terus menerus tanpa henti :). kalo dulu jaman aku masih suka banget ma DEWA, ada thu lagunya….”hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti :)”

jam makan siang, lewat gitu aja jum’at kemaren. padahal biasanya rencana demi rencana bisa berjalan dengan mulusnya. tapi jum’at ini aku cuman duduk termenung di cubicle’ku, baca Home’nya Julie Andrews, dan nunggu makanan junk food dari mbak rima yang dengan baik hati mau beliin aku ditengah-tengah panasnya dia berjalanan kaki dijalanan yang maha kejam itu.

satu jam, dua jam akhirnya lewat. dan begitu mulai agak sorean, aku terima mail yang akhirnya bisa bikin aku ketawa-ketawa mpe nangis, dan inillah moment yang mungkin bener-bener bisa aku nikmatin banget. padahal simple banget. bukannya aku dapet cash yang lagi aku butuhin, bukannya dapet tas yang aku idamin, bukannya aku dapet sepatu yang aku incer, bukannya aku dapet dompet yang aku lirik setiap hari dan bukannya dapet buku yang aku cari selama ini. tapi aku sore ini dapet e’mail dari temen yang isinya bener-bener bisa bikin aku ketawa ngakak…hihihihihi

satu cubicle sadar, abis itu cubicle yang lain pun juga jadi terheran-heran kenapa dengan aku yang menurut mereka mailnya cuman biasa. tapi kenapa aku bisa kayak gini? hmmm…mungkin karena aku memang lagi membutuhkan dan momentnya pas, sedangkan mereka tidak. seperti layaknya jika kita membaca buku, mendengar musik, menonton film, pasti banyak reaksi yang tidak sama bisa keluar begitu aja dari setiap orang yang ada.

ini dia, isi mail yang aku baca waktu itu. Thanks buat ipi dan temen-temen yang udah forward mail ini buat aku. at least, walaupun setelah baca ini masalah dan kepenatanku kembali lagi, tapi ini kurang lebih sudah menguraikan sedikit dari setumpuk kepenatanku selama ini :)

Dialog absurd di tengah kota Jakarta. Gak tahu kisah nyata atau bukan..yang jelas lucu bangeet..

Bis sekarang teladan…
Cewe baru belajar nyetir: “Gua itu paling males nyetir di belakang bis, tau sendiri
kan bis suka ontime nunggu penumpang… ”
Kelapa Gading, didengar oleh saudara yang malas menjelaskan perbedaan besar “ontime” dan “ngetem”.

wah, udah lama gak merhatiin dia…

Ibu mengejek anak kecil bersepeda: “Ih, lihat tuh, badan segede gitu kok masa naik sepeda sekecil itu, hahaha… (sesaat kemudian)… Lah, itu anakku!”
Perumahan di Jakarta, didengar oleh teman yang langsung terbahak-bahak.

Sehat bener ya, jaringannya. .. Tags:
Posted in dailyLife, sharing | Comments Off